Archive Pages Design$type=blogging

BAHAYA RIYA'

         
Telah kita ketahui bersama bahwa hakikat kehidupan adalah ubudiyah, yaitu mengabdi kepada Allah SWT dan untuk mengabdi tersebut dibutuhkan ilmu, sedangkan ilmu sendiri membutuhkan keikhlasan. Maka dari itu ikhlas adalah sandaran amal ibadah kita. Suatu amal kecil yang dilakukan dengan keikhlasan maka hal tersebut dihadapan Allah akan menjadi amal yang besar. Jika kita tahu bahwa kesempurnaan amal ada pada ikhlas maka sebaliknya bahwa sesungguhnya riya’, melakukan suatu amal bukan karena Allah SWT dapat menyebabkan suatu amal menjadi tidak berguna sama sekali bahkan lebih parahnya lagi justru dapat menjauhkan diri dari Allah SWT.

Al Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad menyatakan:”Hati-hatilah kamu terhadap riya’ karena riya’ mampu memusnahkan dan menghilangkan pahala juga menyebabkan kemurkaan dan siksa”. Jadi orang yang beramal dengan didalam hatinya ada riya’ maka orang tersebut adalah orang yang sangat merugi karena tidak hanya tidak mendapat pahala tetapi juga mendapat kemurkaan dan siksa dari Allah SWT. Rasulullah SAW menamakan riya’ sebagai Syirkul ashghor atau syirik kecil karena didalam riya’ berarti seseorang menyandarkan amalnya bukan karena Allah melainkan karena yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda:


أَوَّلُ خَلْقِ الله تُصْلىَ بِهِم النَّار ثَلاَثَةٌ رَجُلٌ قَرَأَالقُرْانَ لِيُقَال اِنَّهُ قَارِئٌ وَرَجُلٌ اِسْتَشْهَدَ وَمَا قُتِلَ اِلاَّ لِيُقَال اِنَّهُ جَرِئٌ وَرَجُلٌ لَهُ مَالٌ تَصَدَّقَ مِنْهُ صَدَقَةً لِيُقَال اِنَّهُ جَوَّادٌ

“ Pertama makhluk Allah yang terbakar api neraka ada tiga: seseorang yang membaca Al-Qur’an agar dia dikatakan Qori’ (mahir membaca Al-Qur’an), dan seseorang yang berperang bertujuan tidak terbunuh kecuali agar dikatakan pemberani, juga seseorang yang berharta kemudian bersedekah agar dikatakan dermawan”

Jika kita cermati dari ketiga golongan orang yang pertama disiksa dalam neraka sebagaimana diungkapkan dalam hadist diatas, ketiganya berakar dari adanya sifat riya’ dalam hati. Hadist tersebut merupakan peringatan keras bagi kita untuk tidak menjadi muro’i. Muro’i adalah sebutan bagi orang yang mempunyai sifat riya’. Oleh karenanya kita berusaha untuk menghindari riya’ karena dengan itu kita akan mendapat rouhah (ketenangan) karena jika sesorang melakukan suatu amal hanya untuk mencari pujian manusia, mencari penghargaan dari manusia dan kemudian hal itu tidak didapatkan maka yang hati orang tersebut akan menjadi gelisah.


Imam Lukman al-Hakim pernah memberikan pelajaran yang menarik kepada anaknya mengenai riya’. Beliau menyatakan kepada putranya:

اِعْمَلْ لاجل الله وَلاَتَعْمَلْ لاجْلِ النَّاس

“Beramallah untuk Allah dan jangan beramal karena manusia”


Diceritakan dalam riwayat Imam Lukman al-Hakim memberikan pengajaran kepada putranya untuk tidak beramal karena manusia. Karena suatu amalan yang dikerjakan karena manusia tidak akan ada benarnya dihadapan manusia tersebut. Untuk membuktikan hal tersebut Imam Lukman al-Hakim mengajak purtanya berjalan melintasi pasar dengan membawa keledai yang mereka miliki. Mereka berdua berjalan sambil menuntun keledai mereka. Setelah melintasi pasar imam Lukman Hakim bertanya pada putranya “apa kata orang nak?”, “mereka mengatakan bahwa kita orang bodoh karena kita punya keledai tapi tidak dimanfaatkan” jawab sang anak. “kalau begitu kita coba lagi lewat dipasar itu lagi dengan menaiki keledai ini nak, kau yang menaiki keledai ini dan aku akan menuntunnya” kata Imam Lukman Hakim. Setelah melintasi pasar imam Lukman Hakim bertanya pada putranya “apa kata orang nak?”, “orang bilang, itu anak durhaka! Dia naik keledai sedangkan bapaknya yang menuntun” jawab sang anak. “masih salah lagi nak? kalau begitu sekarang gentian aku yang menaiki keledai ini dan engkau yang menuntunnya nak, kita lewati pasar itu lagi” kata imam Lukman Hakim. Kemudian mereka berdua kembali melintasi pasar. Setelah sampai diseberang pasar imam Lukman Hakim kembali bertanya kepada putranya “apa kata orang nak?”, “kata orang bapak itu tidak punya kasih sayang, dia enak naik keledai sedangkan anaknya berjalan kaki sambil menuntun keledai yang ia naiki” jawab si anak. “masih salah lagi nak? Kalau begitu kita berdua naik keledai ini dan kita lintasi pasar lagi, kita coba apa yang akan dikatakan orang nak”, akhirnya mereka berdua kembali melintasi pasar dengan menaiki keledai. Seusai melintasi pasar imam Lukman Hakim kembali bertanya pada purtanya “apa kata orang nak?” “orang mengatakan bahwa kita tidak memiliki rasa belas kasihan kepada keledai yang kita naiki karena kita menaikinya berdua”.

Kisah hikmah diatas dengan sangat jelas memberikan gambaran bahwa memang sifat dasar manusia adalah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai sebagaimana dikatakan para ulama’ salaf:

“manusia menginginkan puncak yang tidak mungkin dapat dicapai”

Oleh karena itu sungguh sangat merugi orang yang beramal karena manusia. Jika kita melakukan suatu amal ibadah karena manusia yang akan kita dapatkan hanyalah kepayahan. Tapi sebaliknya jika kita kerjakan amal ibadah tersebut karena Allah maka kita akan mendapat ketenangan dalam hati kita.

Rasulullah memberikan salah satu contoh pedoman hidup yang sangat indah :

“Asalkan Allah tidak murka kepadaku, kalaupun ada orang lain yang murka maka aku tidaklah peduli”

Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad menyatakan bahwa “riya’ adalah ibarat/ungkapan dari seseorang yang mencari martabat di sisi manusia dengan suatu amal ibadah yang harusnya dipakai untuk mendekatkan seseorang kepada Allah” 


Jadi riya’ hanya ada pada amalan ibadah yang dapat mendekatkan sesorang dengan Allah. Jika ada perbuatan yang dilakukan untuk mencari pujian/penghargaan dari manusia tapi perbuatan tersebut baukanlah perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah maka hal tersebut tidak disebut sebagai riya’.

Jika kita merasakan adanya riya’ pada diri kita maka janganlah kita mengharapkan hilangnya riya’ tersebut dengan meninggalkan amal tersebut, karena hal tersebut akan menjadikan syetan senang. Artinya, jika akan melakukan suatu amal kemudian kita merasa diri kita akan riya’ terhadap amal tersebut, maka tidak semestinya kita menghindari riya’ tersebut dengan meninggalkan amal (tidak mengerjakan amal ibadah) karena itu akan membuat syetan senang.

Untuk dapat menghilangkan sifat riya’ dari dalam diri kita diperlukan mujahadah, latihan dan usaha untuk mendidik diri kita agar segala amal ibadah yang kita lakukan benar-benar bersih karena Allah semata. Secara umum ibadah dapat dibedakan menjadi 2 jenis:

1. Amal ibadah yang tidak mungkin dapat kita sembunyikan/pasti dapat terlihat orang. Misalnya, sholat jamaah, haji, hadir majelis taklim, berperang. Untuk ibadah yang tidak dapat kita sembunyikan dari orang lain maka hendaknya kita melaksanakannya dengan memerangi hawa nafsu kita agar kita dapat melakukan amal ibadah tersebut dengan ikhlas dan mohon pertolongan kepada Allah agar menjadikan kita orang yang ikhlas.

2. Amal ibadah yang dapat dilakukan tanpa ada orang yang tahu. Misalnya, puasa, sedekah, sholat malam, membaca al-Qur’an. Maka wajib bagi kita menjalankan amalan-amalan tersebut dengan berusaha keras untuk menyembunyikannya dari orang lain. Karena menjalankan ibadah tersebut secara tersembunyi lebih utama, kecuali bagi sesorang yang aman dari riya’ (hatinya sudah benar-benar bersih dari sifat riya’), berharap agar diikuti dan termasuk orang yang diikuti (penuntun). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam riya’:

- Adanya sifat riya’ terkadang baru dapat diketahu setelah beberapa lama. Sebagaimana diceritakan dalam riwayat ada seseorang yang selama 12 tahun selalu sholat berjamaah dimasjid dan selalu menempati shaf pertama hingga suatu saat ia datang terlambat dan harus berada di shaf belakang. Karena keadaan itu hati orang tersebut merasa gelisah. Hingga seusai sholat ia ditanya oleh imam yang mukasyif (dapat mengetahui isi hati orang lain) mengenai apa yang dirasakannya. Kemudian orang tersebut mengungkapkan adanya kegalauan hatinya karena harus berada di shaf belakang, maka imam tersebut menyatakan bahwa kalau begitu selama 12 tahun sholatmu di shaf pertama adalah riya’.

- Hati-hati dalam keadaan emosi. jangan sampai hanya karena emosi kita menghilangkan suatu amal ibadah dengan menunjukkan amalan tersebut kepada orang lain.

Ihwani mulailah kita instropeksi diri kita apakah ada dalam hati kita penyakit ini? Jangan sampai amal yang selama ini kita kerjakan sia-sia hanya karena riya’……….

Wallahu A'lam ,,,,,




COMMENTS

Name

artikel Fiqih kategori 1 profil Sejarah
false
ltr
item
Pondok Pesantren Anwarut Taufiq: BAHAYA RIYA'
BAHAYA RIYA'
http://3.bp.blogspot.com/-VkUlcNoESic/VjrMF7t27ZI/AAAAAAAABNE/YDPLaoh0PRQ/s320/riya.png
http://3.bp.blogspot.com/-VkUlcNoESic/VjrMF7t27ZI/AAAAAAAABNE/YDPLaoh0PRQ/s72-c/riya.png
Pondok Pesantren Anwarut Taufiq
http://www.anwaruttaufiq.com/2015/11/bahaya-riya.html
http://www.anwaruttaufiq.com/
http://www.anwaruttaufiq.com/
http://www.anwaruttaufiq.com/2015/11/bahaya-riya.html
true
3872576872173101298
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago